Agenda Paroki

S M T W T F S
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2

Login Email
banner kiri 2019b

We have 68 guests online
Renungan Hari Minggu, Tgl 6 Oktober 2019 PDF Print

Dibenarkan Karena Iman

 

Suku Indian memiliki cara unik untuk mendewasakan anak laki-laki mereka. Jika anak laki-laki sudahh dianggap cukup umur, ia akan dibawa oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup. Ia dibawa menuju hutan yang paling dalam. Ketika hari sudah malam, tutup matanya dibuka, dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendiri. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.


Sebagai seorang anak, ia amat ketakutan karena malam begitu gelapnya, sehingga ia tidak dapat melihat tanggannya sendiri. Disekitarnya ia mendengar suara-suara yang menyeramkan, auman serigala, bunyi gemerisik dahan yang membuatnya semakin takut. Namun, ia tidak boleh menangis dan berteriak, supaya lulus ujian. Cahaya pagi perlahan mulai merekah, ia begitu gembira sekaligus kaget. Ia menyaksikan ayahnya berdiri tidak jauh di belakannya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip di pinggang, untuk menjaga anaknya.


Kenyataan hidup ini, sepertinya Tuhaan “begitu kejam” melepaskan anak-anak-Nya ke dalam dunia yang jahat ini. Kadang kala kita tidak dappat melihat penyertan-Nya, namun satu hal yang pasti bahwa Ia setia, Ia mengasihi kita, dan Ia selalu menjaga kita, seperti bapak anak Indian. Kita sering kali terpusat pada kesulitan dan kesedihan, hingga tidak menyadari penyertan-Nya.


Sebagai anak-anak Tuhan, kita dipanggil untuk hidup benar di hadapan Tuhan. Dalam perikop Luk 17:1-4, Yesus menunjukan bahwa selama bumi masih ada, akan ada ajaran sesat atau ajakan untuk hidup jauh dari Allah bahkan hidup tanpa Allah. Selain itu, kita diajak untuk berani menegur jika ada yang berbuat salah. Jika ia menyesal, ampunilah dia, walaupun ia salah dan berbuat dosa terus-menerus.


Dalam konteks inilah para murid meminta Yesus untuk menambakan iman. Jawaban Yesus amat menarik, iman memiliki kekuatan luar biasa . “ Sekiranya kamu memiliki iman sebesar biji sesawi, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini, 'Terbantunlah engkau dan tertanamlah didalam laut'. Dan pohon itu akan menuruti perintahmu” (Luk 17:6). Bagi Yesus, iman tidak perlu ditambahkan. Iman sebesar biji sesawi saja sudah cukup. Apa maksudnya?


Biji sesawi adalah biji yang paling kecil di antara biji-bijian. Namun, biji ini mampu bertumbuh dan berkembang, serta memberi manfaat, yakni sebagai sayuran, dan tempat berteduh bagi burung-burung. Inilah yang pokok. Iman tidak dapat ditambahkan oleh orang lain, namun bertumbuh dari dalam secara perlahan-lahan, sehingga semakin bermakna atau memberi manfaat kepada orang lain. Iman tidak hanya diakui tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata, yaitu menjadi hamba yang tekun dan setia melayani dengan sukacita.


Manusia memang bertanya, namun manusia lupa bahwa Tuhan tetaplah Mahabaik. Ia juga menguji iman setiap orang yang percaya kepada-Nya. Firman-Nya, “sungguh, orang yang sombong tidak lurus hatinya, tetapi orang benar akan hidup berkat imannya” (Hab 2:4) Apakah anda termasuk orang benar? Atau anda adalah seorang yang selalu protes kepada Tuhan karena pengalaman-pengalaman keras selama ini ?

(Rm. Suibertus Marsanto, O. Carm)
Dikutip dari buku ruah

 


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.