Agenda Paroki

S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4

Login Email
banner kiri 2019b

We have 98 guests online
Renungan Hari Minggu, Tgl 11 Agustus 2019 PDF Print

Malam itu, di kota Philadelphia , Amerika Serikat, hujan badai turun dengan derasnya. Seorang pengusaha hotel kecil yang merangkap sebagai manager dan receptionis menerima sepasang suami istri dari luar kota yang membutuhkan kamar untuk menginap. Saat itu, tahun 1889, belum ada teknologi pemesanan hotel secara online. Para pelancong sering kali terpaksa berspekulasi untuk memperoleh penginapan disuatu daerah. “Mohon maaf , hotel kami hanya memiliki 24 kamar dan saat ini semua sudah penuh” jawab sang manager. “Baiklah kalau begitu kami akan mencari hotel lain saja” jawab sang tamu. Saat sepasang suami istri itu akan berbalik pergi, sang manager berkata : “Tidak mungkin saya membiarkan bapak dan ibu berkeliling mencari penginapan ditengah badai dan gelapnya malam ini. Saya tidak ingin bapak dan ibu mengingat hotel kami ini sebagai hotel yang menolak tamu disaat kesusahan. Sebagai pengelola, saya tinggal disalah satu kamar terbaik dihotel ini. Kalau kami bersihkan dan rapikan kamar itu, apakah bapak dan ibu berkenan untuk menginap disini?” Malam itu, seluruh keluarga sang manager tidur didalam kantor hotel mereka saat sepasang tamu itu tidur dengan tersenyum dikamar mereka yang nyaman.

Lebih dari tiga tahun berlalu, pada suatu pagi , sang manager menerima surat dengan amplop indah dan tinta emas. Sang tamu yang hadir ditengah badai pada malam yang gelap itu mengundangnya  untuk datang ke kediaman sang tamu di New  York. Saat sang manager tiba di New York, sang tamu menyambutnya dengan hangat  dan mengajaknya melihat sebuah pencakar langit. “Bangunan ini akan menjadi hotel termegah didunia, saya ingin anda mengelolanya.” Sang tamu adalah William Waldorf Astor, salah satu orang terkaya di dunia saat itu. Sang manager adalah George Charles Boldt yang akhirnya menjadi seorang milliarder pemilik berbagai jaringan hotel di Amerika Serikat. Bangunan itu adalah hotel Waldorf Astoria, yang saat ini adalah salah satu jaringan hotel kelas atas termewah  dan terbaik didunia. (bdk Steve Kosasih, “Teguh tersenyum di tengah badai” Harian Kompas edisi Kamis 26 Nopember 2015, hal 39).

 

Kisah pengalaman hidup seorang milliarder diatas mengajak kita merenungkan bahwa dalam hidup ini Tuhan hadir dalam aneka cara dalam pengalaman hidup . Kita mungkin tidak menyangka akan mengalami krisis dan badai hidup seperti kisah tadi,  Sang manager tidak menyangka akan kedatangan tamu yang luar biasa ditengah hujan badai dan malam gelap. Kita mungkin akan menolak karena hanya bikin susah saja.  Namun , sebagai umat beriman , Tuhan
mengingatkan kita untuk selalu siap sedia. “Hendaklah kalian juga siap-sedia, karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tak kalian sangka-sangka." (Luk 12:40).  Ada ungkapan “heri est historia, crastinum mysterium”yang artinya kemarin adalah sejarah, masa depan adalah misteri. Tuhan tidak selalu datang membawa damai dan ketenangan. Tuhan memberikan tantangan dan godaan agar kita semakin dikuatkan . Berimanlah teguh daripada sebelumnya. Hanya mereka yang telah teruji oleh guncangan (tantangan) layak menjadi pengikut Tuhan dalam kehidupan.

 

Apapun pengalaman hidup  yang kita alami dan rasakan , itu semua karena  kehendak Tuhan. Pengalaman hidup dalam penderitaan , tertekan, krisis dan kegagalan sesungguhnya mampu meningkatkan dan mengubah nilai diri serta harkat kita. Dari kegagalan , orang bisa belajar jauh lebih banyak daripada dari kemenangan . Kemenangan sering membuat orang jadi bodoh. Pujian dan kemenangan akan melemahkan diri kita. Untuk dapat menemukan kehendak Tuhan bukanlah perkara mudah, bagi orang yang selalu berusaha hidup benar, jujur terhadap Dia dan sesama, maka hidupnya akan tenteram karena berkenan kepada-Nya. Hidup kita dihadapan Tuhan terkadang seperti seorang hamba terhadap tuannya. Hamba tidak tahu banyak tentang tuannya, yang dia ketahui hanyalah menjalankan tugas sebaik mungkin, dengan demikian dia bebas dari hukuman  dan hidupnya akan selamat. Demikian pula halnya dengan orang beriman, ia hidup dalam penyerahan diri secara total kepada Allah, walaupun terkadang kehadiran dan keberadaan-Nya terasa  gelap. Penyerahan diri  kepada Allah bukan  merupakan tindakan pasif, dalam arti tidak berbuat apa apa. Penyerahan diri harus dilihat dalam konteks panggilan hidup. Manusia dipanggil dan diutus supaya pergi dan berbuah, manusia dipanggil untuk berbuat sesuatu, sebagai perwujudan serah diri kepada Tuhan, itulah iman.

 

Sabda Tuhan mengajarkan agar manusia selalu siap menghadapi realitas, Kesetiaan kepada-Nya terkadang menuntut kesanggupan kita untuk menghadapi penyangkalan terhadap harta dan sesama, walaupun hal tersebut tidaklah selalu harus terjadi, Pendampingan Roh Kudus akan memampukan manusia menyelaraskan hubungannya dengan Allah dan sesama. Bersatu dan dekat dengan Allah menjadi hal yang paling mendasar dalam hidup manusia.

Dikutip dari https://jennysetyowati.blogspot.com/

 


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.