Agenda Paroki

S M T W T F S
31 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 1 2 3 4

Login Email
banner kiri 2019b

We have 71 guests online
Renungan Hari Minggu, Tgl 3 Februari 2019 PDF Print

ALLAH PUTERA DIUTUS BAGI SEMUA ORANG

Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi dalam Minggu Biasa ke-4 Tahun C. Pada Tahun Berhikmat, dalam rangkaian lanjutan pengenalan kita akan Yesus yang telah hadir menggenapi nas Kitab Suci yang kita dengarkan dari Injil Markus pada Minggu yang lalu, kita diajak untuk melihat bagaimana Yesus Sang Sabda yang telah menjadi manusia itu melaksanakan dan memperanggungjawabkan tugas-Nya. Dalam bacaan Injil, kita diajak untuk mendengar bagaimana Yesus menyadari dan juga menyadarkan orang banyak bahwa tugas yang diemban-Nya tidak mudah. “…tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya,” kata Yesus. Kenyataan ini dihadapi oleh Yesus: orang-orang menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke tebing gunung,…untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Yesus tidak gentar, tidak takut dan juga tidak bereaksi berlebihan. Ia berjalan lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Bacaan pertama minggu ini menyampaikan hal senada. Nabi Yeremia meyakini bahwa panggilan kenabiannya adalah keniscayaan. Sejak sebelum dilahirkan pun telah ditetapkan oleh Allah untuk itu. Ia harus tidak gentar jika mau tidak digentarkan Allah di depan orang-orang yang kepada mereka Yeremia harus berbicara dan bernubuat. Tugasnya sangat berat karena harus menentng raja-raja dan pemuka-pemukanya, imam-imam dan rakyat negerinya. Yeremia melaksanakannya dengan satu keyakinan bahwa Allah akan menyertai dan melepaskannya dari ancaman orang-orang itu. Rasul Paulus dalam bacaan kedua, memberikan kesimpulan atas alasan tindakan Yesus dan Yeremia yakni karena kasih Dalam pengalaman yang tidak selalu jelas maka tinggal ketiga hal ini: iman, harapan dan kasih yang penting, tetapi dari ketiganya kasihlah yang terbesar. Maksudnya karena kasih kepada manusia, Yeremia maupun Yesus mau untuk melakukan hal yang mendatangkan pertentangan dan bahkan penolakan terhadap diri mereka.

Saudari-saudara sekalian, melalui pembaptisan kita juga mendapatkan panggilan dan perutusan seperti Yeremia dan Yesus. Dalam melaksanakan tugas yang tidak diperhadapkan dengan pertentangan dan perselisihan, amanlah kita. Malahan cenderung kita sangat bersemangat. Namun pada kenyataannya tidaklah selalu demikian. Dalam melaksanakan tugas, kita sering sekali menjumpai tantangan yakni pertentangan dan malahan mungkin juga penolakan dari orang-orang lain. Bahkan sering terjadi bahwa di antara benyak orang yang mempunyai maksud baik pun bisa terjadi pertentangan dan selisih paham. Semua itu terjadi karena keterbatasan yang seringkali tidak disadari dan diakui. Dalam sebuah evaluasi kepanitiaan ada yang menyampaikan bahwa dirinya sangat terkejut ketika berjumpa dengan orang-orang yang dalam bayangannya baik-baik tetapi bisa bertengkar juga. Untunglah meskipun sempat menangis sendiri menghadapi yang bertengkar dan juga menghadapi yang ternyata tidak konsisten dalam niat pelayanannya, ia tetap memilih untuk tegar dan melanjutkan terus tugasnya. Dia berpatokan pada hal bahwa ia bekerja bukan untuk si A atau si B apalagi untuk dirinya sendiri tetapi untuk umat dan terutama untuk memuliakan Tuhan. Dalam Tuhan, pasti ada jalan untuk menemukan yang terbaik demi kepentingan bersama, dalam hal ini saudara ini telah mengikuti nasehat dan Teladan Yesus.

 

Di tempat lain Yesus berkata: “Kalau mereka menentang kamu, ketahuilah bahwa mereka telah lebih dahulu menolak Aku.” Injil hari ini menunjukkan kepada kita, bahwa memiliki suatu pandangan dan sikap hidup yang universal atau luas dan menyeluruh tidaklah mudah! Yesus ditolak karena Ia menunjukkan kejiwaaNya yang besar dan kemurahan hati-Nya, khususnya kepada orang-orang kecil. Bapa Paus malah menantang kita untuk keluar dari tempat duduk sofa kita agar kita dapat bergaul dan menjumpai saudara-saudari orang-orang pinggiran yang membutuhkan kita. Bapa Uskup kita sering mengajak supaya kita berdoa mohon “kegelisahan”, maksudnya supaya kita tidak membiarkan diri dalam kenyamanan diri ataupun kelompok sementara begitu banyak orang menjerit memerlukan uluran tangan. Dalam tahun politik ini, kita juga akan menghadapi dan bahkan sudah menghadapi keadaan ketidaknyamanan yang bisa menggoda kita untuk memilih diam saja. Gereja mengajak kita untuk tidak tinggal diam. Kita harus berani menyuarakan suara-suara kenabian. Kita diminta untuk terlibat di dalam kegelisahan masyarakat untuk mendapatkan yang terbaik. Semoga kita semakin berhikmat agar bangsa dan negara kita makin bermartabat. Salam Pancasila: Kita berhikmat bangsa bermartabat. (rm pur msc)

 


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.