Agenda Paroki

S M T W T F S
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5

Login Email
banner kiri baru

We have 27 guests online
Renungan Hari Minggu Biasa XXXIV, Tgl 25 November 2018 PDF Print

KING OF GLORY, KING OF PEACE

 

Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi dalam hari Minggu Biasa ke-34. Minggu terakhir dalam lingkaran Tahun Liturgi B, ini juga dirayakan sebagai Hari Raya Kristus Raja Semesta Allah. Perayaan ini memberi kesimpulan pada perayaan sepanjang tahun liturgi dan mempersiapkan untuk masuk ke Tahun Liturgi C yang akan dimulai dengan Hari Pertama Adven pada minggu yang akan datang. Waktunya berjalan begitu cepat dan kita sudah akan masuk ke Tahun yang baru. Perayaan ini mengajak kepada kita sekalian bahwa Tuhan Yesus selalu menyertai kita sepanjang Tahun yang sudah kita lalui dan akan tetap menyertai kita di Tahun yang akan kita jelang. Pesta ini menjadi populer di dalam Gereja sejak tahun 1925 pada zaman Paus Pius XI. Fokus perayaannya adalah sebagai hari Minggu terakhir dalam tahun liturgi dan juga untuk menyiapkan umat untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus Raja kita
yang akan mengadili orang yang hidup dan mati. Bersama penginjil Yohanes kita diajak untuk menjawab pertanyaan Pilatus: Jadi Engkau adalah raja?” Dan jawabannya adalah ya, Yesus adalah Raja, bukan saja raja orang Yahudi tetapi raja semesta alam: “Utuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran;..” Dalam pemahaman dari Kisah Penciptaan, kita diarahkan untuk mengerti arti dari “raja semesta alam” dan “kebenaran” yang dimaksud oleh Yesus. Pada proses penciptaan, manusia dicipta sebagai yang terakhir, sesudah semua alam raya diciptakan. Untuk penciptaan manusia itu, Tuhan menghendaki agar diciptakan mereka segambar dengan Dia. Seturut gambar Allah diciptakannya mereka. Kepada manusia itu pun kekuasaan diberikan oleh Tuhan untuk mengelola: ”Baiklah Kita menjadi manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej 1:26). Sesudah penciptaan manusia itu, pada hari ketujuh Tuhan beristirahat. Kebenaran Sang Raja semesta Alam telah ditetapkan sejak penciptaan itu bahwa manusia menjadi “gambar dan rupa Allah” dan bahwa manusia itu diberi kekuasaan atas isi bumi. Allah beristirahat, tetapi selanjutnya manusia menjadi wakil Allah untuk terus melanjutkan karyanya atas dunia. Yesuslah yang menyatakan kebenaran sempurna sebagai “Gambar Allah” dan “Yang menampakkan karya Allah” itu.

Bacaan-bacaan liturgi pada hari ini membantu mengarahkan kita kepada figur Yesus sebagai raja semesta alam. Daniel dalam bacaan pertama memiliki visi ini: “Tampak seorang seperti Anak Manusia datang dari langit bersama awan gemawan. Ia menghadap Dia Yang Lanjut Usianya dan diantar ke hadapanNya. Ia diserahi kekuasaan, kehormatan, dan kuasa sebagai raja.” Visi atau penglihatan Daniel ini menarik perhatian kita karena menggambarkan Anak Manusia, sebuah gelar yang juga di miliki oleh Yesus (Mat 8:20; Mrk 2:10; Luk 5:23:Yoh 3:13).

 

Anak manusia datang dalam kemuliaan dinaungi awan gemawan. Memang awan adalah shekina atau gambaran bahwa Tuhan hadir di sana dengan segala kemuliaanNya. Ia menghadap Dia yang lanjut usia menunjukkan ketaatan sebagai Putera kepada Bapa. Dan karena ketaatanNya itu maka segala kukasaan dan kehormatan serta kuasa sebagai raja dianugerahkan kepadaNya. KerajaanNya pun tidak akan berakhir karena segala bangsa dan kaum tunduk kepadaNya. KekuasaanNya kekal dan kerajaanNya takkan binasa. Bacaan kedua dari Kitab Wahyu, menggambarkan bahwa Kristus sebagai Raja melepaskan umatNya dari belenggu dosa. Kristus adalah saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi. Dia menjadikan kita sebagai sebuah Kerajaan dan menjadi imam-imam bagi Allah BapaNya. Semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Memang Dia adalah Alfa dan Omega. Dialah yang awal dan akhir, kekal selamanya. Dalam bacaan Injil Yesus mengakui dirinya secara terang-terangan bahwa Dia adalah Raja. Menjawab pertanyaan Pilatus, “Jadi Engkau adalah raja?” Yesus dengan tegas menjawab, “Engkau mengatakan bahwa Akulah Raja! Untuk itulah Aku lahir, dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran akan mendengar suaraKu”.

 

Dalam peraturan dunia yang mengedepankan “pencarian kedudukan” dan “posisi-posisi kekuasaan” perayaan Kristus Raja Semesta Alam menohok kita untuk bertanya diri. Apakah kita tidak termasuk dalam kelompok pejuang-pejuang raja duniawi yang menghalalkan segala cara demi kedudukan dan kehormatan diri? Sudahkah kita mengambil bagian dalam ke-“Raja”-an Kristus: benar-benar menjadi “Gambar Allah” yang menampakkan karya keselamatan-Nya di bumi? Kerajaan Kristus nyata di dalam: perhatian kepada “orang miskin”, kesembuhan kepada “orang sakit”, perdamaian kepada “yang bertikai”, dan harapan kepada “yang putus asa”,  membawa kelegaan bukan “keonaran”, kejujuran dan bukan “hoax’ untuk membenarkan diri, “melayani” dan bukan untuk dilayani. Salam Pancasila: Kita Bhinneka Kita Indonesia.

(rmpurmsc)

 


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.