Agenda Paroki

S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 1 2 3 4 5

Login Email

We have 68 guests online
HARI MINGGU BIASA XXXI PDF Print

MEMIMPIN DENGAN MELAYANI DALAM CINTAKASIH

 

 

Bacaan Liturgi : Mal. 1:14b-2:2b,8-10; Mzm. 131:1,2,3; 1Tes. 2:7b-9,13; Mat. 23:1-12

 

 

 Respect

 

 

Saudari-saudara, kita jumpa lagi pada hari Minggu Biasa ke-31. Mengawali renungan minggu ini saya akan menceritakan pengalaman yang lucu, menjengkelkan tetapi juga menegur yang terjadi beberapa waktu yang lampau. Kebetulan saya dari pelayanan di rumah duka, diajak mampir untuk makan malam di warung pinggiran depan toko-toko yang sudah tutup di malam hari itu. Sementara kami menikmati makanan, biasalah di sana datang silih berganti para penyanyi jalanan yang mengharapkan uang recehan dari para pelanggan. Lewatlah juga seseorang dengan gaya gemulai, biar lengan berotot tapi baju yukensi, menyanyikan lagu “andaikan aku lakukan yang luhur mulia..” dilanjutkan dengan sedikit ucapan-ucapan ketus “pret ahh kupret banyak cerewet..” Saya spontan berbicara dengan keluarga yang mengajak makan itu bahwa mengapa dia nyanyi begitu, mengapa barangkali ia tahu kalau saya ini seorang imam. Keluarga itu hanya berkomentar: “ah si pastor sih baper saja, dia kan bisa menebak siapa yang makan makanan begini di pinggir jalan. Itu teguran buat semua yang suka menyanyikannya kali.” Tapi saya kaget saja lagu itu dinyanyikan oleh seorang “bencong” yang sejujurnya biasa saya takut terhadapnya. Di mulutnya, nyanyian itu berbunyi: “Kalian hanya bisa bernyanyi atau  berbicara tetapi tidak melakukannya juga!”

Saudari-saudara sekalian, bacaan-bacaan hari ini menyampaikan kepada kita sekalian betapa pentingnya perintah Tuhan yakni perintah untuk mengasihi seperti yang sudah kita renungkan pada minggu yang lalu. Nubuat Maleakhi mengajarkan bahwa mengasihi bagi para imam ataupun pemimpin adalah suatu tanggungjawab dan perlakuan yang tulus tanpa pandang bulu. “Bukankah satu Allah yang menciptakan kita? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita?” (Mal 2:10). Bagi Paulus, kasihnya kepada jemaat dihayatinya seperti seorang ibu merawat anak-anaknya. Tanpa basa-basi, Paulus pun bersyukur bahwa umat menerimanya, mendengarkan dan menghargai  ajarannya tentang Injil bukan sebagai perkataan manusia melainkan sebagai sabda Allah sendiri. Injil hari ini mangajarkan: di satu pihak agar yang berwenang untuk mengajari jangan hanya berbicara melainkan juga malaksanakannya; di pihak lain bagi semua yang berkesempatan mendengarkan ajaran tidak perlu berbantah-bantah melainkan mengambil nasehat yang baik dan melaksanakannya juga.

                Bagaimana dengan kita dalam menghayati dan mewujudkan perintah cintakasih Tuhan? Apakah kita tidak pandang bulu dalam bersikap dan memperlakukan saudara-saudari kita? Apakah kita tulus dan menghadapi orang-orang lain siapa saja sebagai saudara-saudari dengan tidak ada rasa ‘takut-takut’ ataupun ‘curiga’ apalagi ‘merasa jijik’? Apakah kita mudah menerima nasehat dan bisa mengambil yang positip dari pendapat orang lain? Apakah kita tidak mudah tersinggung dan cenderung berbantah-bantah mendengar kata orang atau perlakuannya? Apakah kita tidak mudah mengatakan: “Emang siapa elu?” atau “Berkaca dirilah!” atau “Enggak usah banyak ngomonglah, elu sendiri banyak diomongin” untuk kata-kata, usulan, atau nasehat orang lain yang menusuk hati kita? Apakah kita bisa menerima dan mau menelaah teguran atau nasehat orang lain dan tidak sebaliknya ganti mencari-cari kesalahannya dan langsung membalas menasehatinya? Memang kita harus saling menasehati tetapi tidak harus lalu saling mempersalahkan kali. Tuhan Yesus mengajak para murid agar mereka mau mendengarkan dan melaksanakan ajaran yang baik dan benar dari para ahli Taurat dan orang Parisi meskipun Ia tidak setuju dengan sikap dan kelakuan mereka. Kita harus obyektif bisa mengambil manfaat dari hal-hal yang baik meskipun tidak usah mencontoh hal-hal jelek dari orang yang menasehati kita. Jangan mudah terpancing untuk melihat yang jelek-jelek apalagi membalas berbuat jelek juga untuk sikap atau bahkan perbuatan jelek sekalipun dari orang lain terhadap kita. Saudari-saudara sekalian, marilah kita teguhkan hati kita untuk bisa melaksanakan perintah cintakasih Tuhan dengan saling mendengarkan dan saling menasehati dengan tulus; dan tidak berbantah-bantah apalagi saling mencari dan menunjukkan kesalahan tanpa merasa perlu untuk memperbaiki diri.  Marilah kita budayakan sikap saling menghargai dan jauhkan dari emosi mudah terprovokasi.

Salam Bhinneka, salam Pancasila.

(rm pur msc).

Last Updated on Monday, 06 November 2017 13:52
 


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.