Agenda Paroki

S M T W T F S
30 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Login Email
banner kiri baru

We have 26 guests online
Renungan
Hari Minggu Biasa XXIV, Tgl 16 September 2018 PDF Print

ENGKAU ADALAH MESIAS PUTRA ALLAH YANG HIDUP

 

Salam jumpa saudari-saudara sekalian. Hari ini Minggu Biasa XXIV Tahun B. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk membuat penegasan atasengkau adalah mesias pengenalan kita akan Yesus Kristus yang kita imani. Pertanyaan Yesus kepada murid-murid yang memuncak pada jawaban Petrus, menjadi pertanyaan yang harus kita jawab juga. “Kata orang, siapakah Aku ini? Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?” Mengenal Yesus, bisa dan boleh saja dari kata orang ataupun dari sharing orang lain. Namun menjadi murid Yesus harus menjadi sebuah keputusan pribadi dari hasil pengenalan akan Yesus secara mendalam dan menyeluruh. Bacaan Injil menyampaikan bagaimana Petrus yang baru saja mendapatkan pujian oleh Yesus atas jawabannya yang tepat tentang Yesus, ia langsung juga dihardik oleh Yesus: “Enyahlah Iblis! Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan yang dipikirkan manusia” (Mrk 8:33). Hal itu terjadi karena Petrus tidak mau terima bahwa Yesus. Mesias itu akan mengalami penderitaan. Nabi Yesaya dalam bacaan pertama telah melukiskan bahwa Mesias itu akan taat setia kepada Allah, bahkan ketika Ia harus menanggung penderitaan atas orang-orang yang memukuli punggungnya dan mencabuti janggutnya (Yes 50: 5-6). Rasul Yakobus, dalam bacaan kedua, menyampaikan bahwa iman kepada Yesus itu harus konkrit; harus nyata di dalam sikap dan perbuatan-perbuatan. “Kalau seroang di antara kamu berkata saudara yang tidak punya pakaian dan kekurangan makanan: ‘selamat jalan saudara! Kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang’ tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang diperlukan tubuhnya, apakah gunanya? Demikian pula jika iman tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya mati” (Yak 2:16-17). Iman adalah keyakinan yang mendarah daging dan mempengaruhi sikap dan tingkah laku yang semakin sesuai dengan kehendak Allah. Iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus membantu kita untuk bertumbuh sebagai Kristus-Kristus kecil di dunia ini.

Last Updated on Sunday, 16 September 2018 23:06
Read more...
 
Hari Minggu Biasa XXIII, Tgl 9 September 2018 PDF Print

"Allah yang GALAU"

Saudara-saudariku terkasih syalom dan selamat hari minggu! Senang sekali bisa berjumpa kembali dengan anda semua dalam perayaan syukur Ekaristi, perayaan keselamatan dan sumber sukacita kita! Bacaan-bacaan hari ini memberikan penghiburan rohani yang istimewa untuk kita semua karena menampilkan Allah yang sangat peduli dengan hidup manusia, terutama yang sakit, miskin dan menderita! Kisah-kisah penyembuhan yang diadakan Yesus, bukanlah pertama-tama untuk menunjukan kuasanya yang mampu menyembuhkan orang banyak, tetapi lebih dari itu menunjukkan betapa besar kasih dan
kepedulian Allah dalam hidup dan pergumulan kita umatnya! Kasih Allah yang melahirkan mujizat-mijizat membuat segalanya baik!

 

Saudara-saudariku terkasih....dalam bacaan pertama dan injil kita mendengarkan kisah Yesus yang menyembuhkan orang tuli dan bisu! Yesus menyembuhkan bukan karna permintaan mereka, tetapi Yesus sendiri tahu dan berinisiatif untuk melakukan mujizat penyembuhan itu! Itulah Allah kita yang melihat pergumulan umatNya! Allah yang peduli dengan hidup kita! Allah yang mengerti apa kita butuhkan dalam hidup ini, khususnya yang sakit yaitu kesembuhan! Hidup kembali dalam sukacitaNya sebagai anak-anak Allah! Saudaraku terkasih, melihat mukjizat-mukjizat penyembuhan yang diadakan Yesus itu membuat kita sadar, percaya bahwa Allah kita adalah Allah Yang GALAU (God Always Listening and Understand): Allah yang selalu mendengarkan dan mengerti suka-duka hidup kita!

 

Saudara-saudariku terkasih untuk dapat mengalami kebaikan Tuhan dalam hidup kita, berupa pemulihan, penyembuhan, sukacita dalam kehidupan kita sebagai anak-anak Allah dibutuhkan beberapa sikap iman: pertama, jangan takut! Dalam bacaan pertama Yesaya menyampaikan pesan Tuhan kepada umat israel, jangan takut, kuatkanlah hatimu! Inilah sikap iman yang memerdekaan! Allah akan datang dengan segala kuasaNya! Tuhan membutuhkan keberanian kita untuk mengandalkan Tuhan, meskipun karya-karya Tuhan sering tidak mudah untuk dipahami, tetapi selalu indah pada waktunya! Tuhan punya cara dan waktu sendiri, yang unik dan ajaib dalam menyatakan karya rahmatNya! Sikap iman kedua adalah jangan membeda-bedakan orang! Baik kaya maupun miskin kita tetap sama dimata Tuhan, sebagai ciptaan dan anak-anakNya. Dalam bacaan kedua Yakobus mengingatkan kita supaya jangan membeda-bedakan orang, terlebih jika hanya berdasarkan kaya atau miskin! Hendaklah kamu kaya dalam iman dan kasih, itulah pintu berkat di dalam hidup kita! Yang ketiga, datang pada Tuhan dan memohon kuasaNya! Sering kita gagal untuk datang pada Tuhan dan memohon pertolongannya karna kita lebih mengandalkan diri dan kekuatan kita sendiri!

 

Yang keempat, mendengarkan dan wartakanlah kebaikan-kebaikan Tuhan dalam hidup kita! Sikap iman ini juga penting! Kita mendengar dalam bacaan hari ini, Yesus menyembuhkan orang bisu ( tidak bisa bicara) dan tuli (tidak bisa mendengar). Mendengar dan berbicara adalah dua sikap hidup iman yang diinginkan oleh Tuhan! Tuhan menghendaki kita untuk selalu mendengarkan firmanNya dan pada waktu yang sama, mewartakanNya dalam hidup sehari-hari lewat tutur kata dan perilaku hidup sehari-hari!

 

Saudara-saudariku terkasih marilah berdoa dalam ekaristi ini agar iman kita diteguhkan akan Allah yang selalu peduli, mendengarkan dan mengerti akan segala seluk-beluk hidup kita! Semoga mukjizat-mukjizat Tuhan terjadi dalam hidup kita masing-masing! Amin

Pastor H. Ronny Dahua MSC

 
Hari Minggu Biasa XXII, Tgl 2 September 2018 PDF Print

PERTOBATAN BATIN JALAN MENUJU KESUCIAN

 

Salam jumpa lagi saudari-saudara sekalian dalam Berita Sepekan Hari Minggu Biasa XXII. Bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk bercermin ataupun berefleksi sejauh manakah cara kita menghayati kehidupan keagamaan kita, adakah kita menghayati kehidupan beragama yang sejati? Bacaan pertama menyampaikan kepada kita bagaimana Musa menasehati orang Israel untuk melaksanakan kehidupan keagamaannya dengan mendengarkan dan melakukan dengan setia perintah Allah yang telah diajarkan oleh Musa, tanpa menambahkan ataupun menguranginya. Melaksanakan perintah Tuhan itulah jati diri mereka, menjadi kebijaksanaan dan akal budi mereka di hadapan bangsa-bangsa lain (Ul 4:6). Rasul Yakobus mengajak jemaatnya untuk menghayati hidup keagamaan dengan menjadi pelaku firman dan bukan hanya menjadi pendengar, Ibadah yang sejati menurut Yakobus adalah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemari oleh dunia (Yak 1:27). Bacaaan Injil menyampaikan hidup keagamaan yang sejati tidak cukup dihayati dengan pranata-pranata luar yang terlihat melainkan dalam pemeliharaan hidup batin yang terbuka pada kehendak Allah. Apalah artinya pelaksanaan-pelaksanaan pranata lahir jika batinnya penuh rencana buruk: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia”(Mrk 7:6-7). Lebih tegas lagi Yesus bersabda: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mrk 7:14-15).

Read more...
 
Hari Minggu Biasa XXI, Tgl 26 Agustus 2018 PDF Print

KASIH DAN PELAYANAN

 

Bapak, Ibu Saudara/I sekalian yang dikasihi Tuhan, hari ini Tuhan Yesus mau menyadarkan kita tentang kasih. Menurut saudara sekalian, kasih itu apa? Apakah kasih itu sama dengan perasaan sayang ? Apakah menurut saudara kasih itu nampak ketika pasangan atau pacar Anda berkata “ Aku mencintaimu” Atau apakah saudara berpikir bahwa kasih itu terbukti ketika saudara mendapatkan serangkai bunga atau emas dari seseorang ? Atau mungkin ada yang berpikir kasih itu nampak ketika engkau mengajak pasanganmu ke tempat yang indah. Atau mungkin ada pula yang berpikir kasih itu terbukti ketika saudara menunjukan kepada dunia bahwa saudara mengasihi seseorang atau sesuatu dengan menunjukannya kepada khalayak ramai. Mungkin dengan cara memposting atau mengekspos berbagai romantisme di media sosial.

 

Saudara yang dikasihi Tuhan, kasih bukan romantisme. Romantisme seringkali hanya ungkapan perasaan tanpa disertai pengorbanan dan pelayanan yang nyata. Kasih juga bukan sesuatu yang sekedar untuk dipertontonkan kepada dunia.

 

Hari ini Tuhan Yesus menyampaikan kepada kita makna kasih yang sesungguhnya, “ Kasih adalah pelayanan “. Saudara, pelayanan jangan dimengerti hanya sebatas perkataan. Melainkan pelayanan adalah kegiatan manusia yang menyertakan kesungguhan hatinya untuk melakukan sesuatu untuk orang lain. Atau lebih sederhananya kasih bisa dimengerti sebagai kerja. Kerja dengan tulus hati demi Allah dan sesama, itulah yang dimaksud kasih. Kasih mampu mengubah yang sakit menjadi sehat. Kasih mampu mengubah yang rusak menjadi baik kembali. Dan kasih adalah karya orang-orang yang hidup bersama Allah. Jika dalam hidup saudara ada karya pelayanan kasih secara tulus. Maka Allah ada dan bekerja bersama – sama dengan saudara. Karena sesungguhnya
, “Allah adalah kasih".

 

Maka jalankan kasih itu tanpa banyak kata dan promosi. Jangan seperti ahli Taurat dan Orang Farisi yang mengajarkan tetapi tak melaksanakan. Tetapi kita,
laksanakanlah dan ajarkanlah.

Dikutip dari buku percikan hati

 
Hari Minggu Biasa XX, Tgl 19 Agustus 2018 PDF Print

YESUS SANG ROTI HIDUP

 

Saudari-saudara sekalian, salam jumpa lagi dalam renungan berita sepekan pada hari Minggu Biasa ke-20. Salam Kemerdekaan, karena kita juga baru saja merayakan peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia ke-73. Dengan mengambil thema “Bekerja Bersama Membangun Persatuan Bangsa, Kita Bhinneka Kita Indonesia” panitia perayaan 17 Agustus paroki Kemakmuran bekerjasama dengan Kelurahan Petojo Utara, mengajak kita untuk membangun dan menumbuhkambangkan semangat kesatuan dan kerukunan di antara umat beragama di wilayah paroki dan kelurahan Petojo Utara. Acara ditengarai dengan pertemuan bersama dalam doa, renungan, dan makan bersama. Para tokoh agama dari agama Islam, Hindu, Budha, Kristen, dan Konghucu bersama-sama dengan tokoh-tokoh masyarakat dari FKUB, bapak Lurah bersama dengan jajarannnya, dari Kepolisian, dan juga TNI, dan juga warga-warga sekitar Gereja, bergabung bersama dengan segenap umat dan dewan paroki Kemakmuran gereja Bunda Hati Kudus memeriahkan acara yang diiringi persembahan spontan lagu-lagu daerah, lagu nasional, dan lagu lainnya dari umat maupun warga setempat. Acara yang sederhana, meriah, dan membawa kesan syukur dan terimakasih dari para peserta sekalian. Renungan dan doa yang mengedepankan pentingnya bersyukur kepada Tuhan Sang Asal dari semua umat-Nya, mengajak untuk membangun solidaritas dan kerjasama serta kerukunan di antara umat beriman. Penyalaan obor sebagai nyala api semangat persatuan dipuncaki dengan pemotongan tumpeng mengisyaratkan niat dan kerjsama yang mendalam. Tumpeng adalah makanan yang dalam adat Jawa hendak mengungkapkan ketakwaan kepada yang Di Atas yakni Tuhan yang Mahaesa dan keberagaman keberadaan manusia yang dalam kesatuan dan “golong giliging pemikiran” ataupun kesepahaman visi dan misi di dalam keyakinan kepada Tuhan mengajak untuk terus mengeratkan persatuan untuk menyangga keterarahan kepada Yang Khalik.

Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 2 of 16


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.