Agenda Paroki

S M T W T F S
31 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Login Email

We have 76 guests online
Renungan
ALLAH MAHA PENGASIH DAN PENGAMPUN PDF Print

     Membaca bacaan-bacaan hari Minggu ini saya teringat akan pertanyaan “kenapa sih bacaan pada hari Minggu ada tiga?” Misalnya bacaan pada minggu ke-4 prapaska ini, apa relevansinya bacaan Kitab Yos 5: 9a. 10-12 dan 2Kor 5: 17-21 dengan Injil Luk 15:1-3. 11-32 itu? Pertama-tama kita melihat dari sudut kalender Liturgi. Kalender liturgi menyajikan kepada kita umat yang hadir pada misa hari Minggu di gereja, bacaan-bacaan Kitab Suci sedemikian rupa sehingga dalam kurun waktu 3 tahun (Tahun A,B, dan C) akan dapat membaca sebagian besar, hampir keseluruhan, isi Kitab Suci. Yang kedua kita diajak untuk menyadari bahwa Injil menjadi fokus pewartaan Kitab Suci. Perjanjian Lama mengarah kepada Injil, dan Surat-surat menjadi aplikasi penghayatan Injil. Maka lalu ada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dalam Perjanjian Baru ada keempat Injil, dan semua itu disebut Injil. Yang ketiga berkaitan dengan tema. Injil tentu menjadi pewartaan pusat. Bacaan yang lain dipilihkan yang sejalan atau mendukung tema Injil dan tentu tema-tema berkaitan dengan Perayaan Liturgi (Paska yang didahului dengan Prapaska, Natal yang didahului dengan Adven, serta masa biasa).

    Sekarang mari kita cermati bacaan pada minggu ke-4 prapaska. Kalau kita memperhatikan tokohnya, minggu lalu kita melihat tokoh Musa yang terpangggil untuk mewujudkan kehendak Allah, untuk menyatakan bahwa Allah mendengarkan jeritan umat-Nya. Kali ini kita menemukan tokoh Yosua yang melanjutkan perutusan Musa tetapi sekaligus memperbaharui perjanjian Umat dengan Tuhannya, “Hari ini telah Kuhapuskan cela Mesir itu dari padamu”. Sesudah merayakan Paska di Tanah terjanji, umat tidak makan mana lagi tetapi makan dari yang dihasilkan tanah Kanaan. Intinya Allah begitu mengasihi umat-Nya sehingga dipelihara terus menerus bahkan lebih baik lagi. Bacaan kedua menampilkan Kristus, diri kita, dan Paulus. Di dalam Kristus kita dijadikan sebagai manusia baru karena Ia telah mendamaikan kita dengan Diri-Nya. Paulus dan murid-murid yang lain mengambil peran melanjutkan mewartakan dan menjamin terwujudnya hidup baru dalam damai dengan Kristus itu. Bacaan Injil menampilkan tiga tokoh: bapa, anak bungsu, dan anak sulung sebagai gambaran dari Allah Bapa yang selalu mengasihi dan baik hati berhadapan dengan manusia yang cenderung berdosa karena tidak merasakan kebaikan Allah. Dan diantara kedua orang itu ternyata yang terlihat lebih parah dosanya bisa lebih sadar dan kembali kepada bapanya sedangkan yang diharapkan selalu merasakan kebaikan bapanya ternyata malah tidak merasakannya dan menolak masuk dalam sukacita keluarga bapanya. Si sulung mengedepankan lembaga agama yang merasa bahwa dengan melakukan kewajiban-kewajiban ataupun aturan tertentu apalagi secara teliti akan mendapatkan reward dari Tuhannya. Allah yang diajarkan Yesus sangat berbeda, Ia Maha Pengasih dan Maha Pengampun tanpa syarat apapun selain keterbukaan hati akan kasih-Nya.

      Saudara-saudara, kalau kita merangkai ketiga bacaan hari Minggu Prapaska ke-4 ini maka kita akan mendapati pewartaan bahwa Allah sungguh Maha Pengasih dan Pengampun. Ia setia dengan perjanjian-Nya, Ia memelihara umat-Nya bahkan memperbaharuinya untuk sukacita yang sempurna. Bahkan ketika manusia ingat akan Dia di dalam pertobatannya, Ia membuka hati dan menerimanya dalam pelukan kasih-Nya. Tiada syarat tetapi kemauan untuk diperbaharui dan didamaikanlah yang diperlukan. Kristuslah pokok damai itu. Allah dengan perantaraan Kristus mendamaikan kita dengan diri-Nya. Allah berinisiatif, Kristus pelaksananya. Tetapi mari kita perhatikan di sini bahwa Rasul Paulus menempatkan dirinya dan utusan-utusan yang lain sebagai yang bertugas menyerukan ajakan untuk pendamaian itu. Jika dibandingkan dengan anak sulung, sikap Paulus sangat berbeda. Anak sulung tidak mau bapanya bermurah hati, tidak mau bahwa yang sudah bersalah itu menerima kerahiman; Paulus mau mewartakan kerahiman Tuhan dan bersukacita atas pertobatan sesamanya.

      Mari dalam masa prapaska ini kita memanfaatkan kesempatan bertobat, memperbaharui sukacita hidup dalam kasih Tuhan dan marilah kita pun mau menjadi seperti Yosua dan Paulus yang mau untuk membagikan pengalaman sukacita pertobatan itu agar banyak saudara turut menikmatinya.

Berkat Tuhan,

rmpurmsc

Last Updated on Saturday, 09 March 2013 10:47
 
KETIKA YANG LAIN JELEK, APAKAH OTOMATIS AKU MENJADI BAIK? PDF Print

Selamat jumpa saudara-saudariku yang terkasih. Saya romo paroki Anda sekalian. Sudah lama saya ingin jumpa melalui rubrik renungan ini tetapi belum-belum kesampaian. Minggu ini saya memberanikan diri untuk mulai muncul di hadapan Anda. Pada bacaan pertama hari ini berkisah tentang Musa yang menerima panggilan perutusan Tuhan dan meskipun takut dan cemas, ia mau muncul di hadapan bangsanya. Sedangkan dalam bacaan kedua Paulus mengajak agar murid-muridnya menjadi rendah hati karena kesombongan bisa membawa kejatuhan. Dan dalam bacaan Injil menyatakan kesabaran yang diminta oleh Tuhan kepada setiap orang untuk menanti sebuah perubahan yang lebih baik. Dari bacaan-bacaan tersebutlah saya memberanikan diri untuk mau hadir dan menyapa saudara-saudari sekalian.

 

Mungkin kita pernah tersentak sadar bahwa kita telah begitu asyik menceritakan kelakuan yang buruk dari seorang kenalan kita atau malahan sibuk menceritakan kata orang bahwa seseorang mungkin telah melakukan kesalahan tertentu. Bukan saja seorang tetapi beberapa orang dibicarakan dan seperti diinventarisir kejelekannya. Makin lama makin asyik saja. Malahan ada yang menjadikannya sebagai kebiasaan. Persoalannya adalah apakah dengan membicarakan kejelekan orang lain, saya sendiri menjadi lebih baik?

 

Saudara-saudara, bacaan pada minggu ketiga Prapaska ini mengajak kita untuk merenungkan beberapa hal. Teguran Yesus kepada orang-orang pada bagian pertama bacaan Injil menjadi teguran bagi kita juga. “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya…. Tidak! Kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Orang-orang itu menceritakan kepada Yesus tentang nasib malang yang dialami oleh orang-orang Galilea, tetapi Yesus mengajak mereka sendiri untuk bertobat. Bukan cerita atas kemalangan atau pengalaman buruk orang lain yang menjadi fokus tetapi perlunya mereka semua bertobat. Jangan menyangka semua jadi “oke” bila bisa menceritakan keburukan orang, melainkan diri sendiri perlu bertobat. Yang kedua, tentang pertiobatan itu sendiri. Dengan ilustrasi tukang kebun dan pohon ara, Yesus mengajak kita untuk menyadari bahwa Tuhan senantiasa membuka peluang pada umat-Nya untuk bertobat dan peluang ini haruslah digunakan. Hidup ini harus disyukuri bukan saja sebagai hidup tetapi menjadi kesempatan untuk bertobat dalam arti bertumbuh lebih baik agar menghasilkan buah-buah kebajikan dan kesempurnaan.

 

Kebajikan dan kesempurnaan yang dimaksud: iman dan takwa kepada Tuhan, kasih, kerukunan, perdamaian, persaudaraan, keugaharian (kesahajaan) dan belarasa pada sesama, sukacita dan kesabaran, pengampunan dan pengharapan dsb, yang merupakan karunia-karunia Roh. Terhadap orang lain kita diminta untuk tidak mudah menghakimi dan menghukum melainkan sabar dan proaktif untuk terjadinya pengampunan dan perdamaian. Terhadap diri sendiri kita diajak untuk penuh harapan dan tekun dalam pembaharuan diri terus menerus untuk ‘semakin beriman dan berbelarasa’. Dalam konteks bacaan pertama (Kel 3: 1-8a. 13-15) seperti Musa kita diajak untuk optimis, berani, dan penuh keyakinan bahwa banyak orang pasti mau menanggapi ajakan untuk menuju pembaharuan hidup. Dan dalam konteks bacaan kedua (1 Kor 10:1-6.10-12) kita diajak untuk menumbuhkan kecintaan dan kepatuhan kita pada kehendak Allah, agar kita mau berproses dan tidak terpana di dalam zona nyaman ataupun kesombongan diri.

 

Mari saudara-saudara kita teguhkan hati kita agar kita semakin beriman dan semakin berbelarasa melalui usaha pertobatan dan pembaharuan diri dan dalam keterbukaan untuk pengampunan dan perdamaian.

 

Berkah Dalem,

Pastor Yohanes Purwanta MSC

Last Updated on Wednesday, 06 March 2013 12:01
 
Hari Hati Yesus Yang Maha Kudus PDF Print
Monday, 14 June 2010 02:15

HR HATI YESUS YANG MAHAKUDUS:  Yeh 34:11-16; Rm 5:5b-11; Luk 15:3-7

“Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.”

Suatu pengalaman dan kenyataan yang sungguh konkret kita hayati atau alami setiap hari: ketika ada saudara atau saudari kita sedang sakit serta dirawat di rumah sakit pada umumnya kita sungguh memberi perhatian, apalagi ketika ada sahabat, kenalan atau saudara kita mati alias dipanggil Tuhan. Sebaliknya ketika mereka dalam keadaan baik alias biasa-biasa saja pada umumnya kita kurang memberi perhatian. Hal yang senada terjadi dalam diri kita, tubuh kita sendiri: ketika anggota tubuh kita sehat semuanya pada umumnya kita hidup seenaknya, sebaliknya ketika ada anggota tubuh kita atau bagian tubuh kita yang sakit kita akan memberi perhatian luar biasa; mau mandi diperhatikan, mau tidur diperhatikan, dst…

Last Updated on Tuesday, 29 November 2011 01:25
Read more...
 
Hari Kenaikan Tuhan Yesus PDF Print
Tuesday, 18 May 2010 08:48

HR KENAIKAN TUHAN : Kis 1:1-11; Ef 1:17-23; Luk 24:46-53


“Kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk 24:49)


Sebelum menerima tahbisan imamat, sakramen perkawinan atau kaul kekal, pada umumnya calon imam, calon suam-isteri atau biarawan yang bersangkutan diminta mempersiapkan diri secara khusus, antara lain dengan mengasingkan diri untuk merenung atau retret. Di dalam waktu khusus ini mereka dengan tekun berdoa dan berusaha memahami panggilan hidupnya beserta tuntutan-tuntutan atau kewajiban yang kelak harus dilaksanakan setelah menjadi imam, suami-isteri atau anggota lembaga hidup bakti penuh. Selama masa persiapan khusus tersebut pada umumnya orang dalam keadaan gembira sekaligus merasa ragu-ragu juga, namun demikian tetap merasa diri sebagai yang terberkati. Masa tenang untuk pengendapan diri semacam itu sungguh dibutuhkan dalam rangka menempuh hidup baru.

Last Updated on Monday, 14 June 2010 03:18
Read more...
 
« StartPrev12345678NextEnd »

Page 8 of 8


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.