Agenda Paroki

S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4

Login Email

We have 21 guests online
Renungan
HARI MINGGU BIASA XIII PDF Print
MENGIKUTI YESUS DENGAN SEPENUH DIRI Saudari-saudara terkasih, kita masuk dalam Hari Minggu ke-13 dalam Tahun A. Bacaan-bacaan pada hari ini menantang kita untuk menilai diri, sejauh manakah kita benar-benar sudah menjadi orang katolik ataupun murid-murid Yesus. Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus menegaskan bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya. Baptisan dikenal sebagai sakramen inisiasi. Inisiasi berasal dari kata bahasa Latin, initium, yang berarti masuk atau permulaan, secara harafiah berarti masuk ke dalam. Dalam perlambangan, masuk ke dalam air berarti ikut mati bersama Kristus dan keluar dari air berarti bangkit dan hidup baru bersama Kristus. Pemaknaannya, ketika kita dibaptis, kita dimasukkan ke dalam keanggotaan Kristus. Dari pihak Kristus kita telah ditebus dengan kematian-Nya, dari pihak yang dibaptis ada kemauan untuk hidup baru menurut cara hidup Yesus. Sesudah dibaptis semestinya kita akan hidup menurut cara hidup Yesus. Bacaan Injil mengajak kita untuk mengevaluasi apakah kita memang sudah hidup menurut Yesus Kristus. Sepertinya ini sangat tidak Indonesia banget. Dari kecil kita diajar untuk mencintai keluarga lebih dari segala sesuatu. Namun bagi murid-murid Yesus, Ia berkata: “Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada mengasihi Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Dan siapa saja yang mengasihi putranya atau putrinya lebih dari mengasihi Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Sangat radikal atau Yesus sangat egois? Tapi sebentar, dalam ayat berikutnya Yesus mengatakan: “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, …..barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Mat 10: 40, 42). Di satu pihak Yesus mengatakan bahwa yang mengasihi keluarga lebih dari mengasihi Yesus tidak layak, di pihak lain yang mau memberi segelas air sejuk saja kepada seorang kecil karena Yesus tidak akan kehilangan upahnya. Kita ingat di tempat lain ada pernyataan Yesus: “jika kamu mencintai orang yang mencintai kamu saja, apalah jasamu?” Dalam pernyataan di atas kiranya Yesus tidak menghendaki supaya kita membuang keluarga untuk mencintai Yesus. Sebaliknya kita diajak untuk menjadikan ikatan kita atau kesatuan kita dengan Yesus untuk menjadi dasar atau semangat dalam membangun relasi dengan keluarga sekalipun. Dalam hal yang baik-baik, efek hal ini tidak terlalu kentara, namun dalam hal yang sulit hal ini menjadi sangat penting. Ketika relasi dengan keluarga terjalin baik tentu tidak ada masalah tetapi ketika ada keadaan yang menantang terjadinya keretakan, sabda Yesus itu menjadi berbicara. Ketika saya merasa sakit hati atas perlakuan salah seorang saudara, dapatkah saya tetap mencintai dia? Secara spontan kita mudah mengatakan: “Saya kan hanya manusia, kesabaran saya terbatas.” Sebagai murid Yesus yang telah dipersatukan dengan Dia di dalam pembaptisan, kita wajib mencintai atas nama Yesus, juga kepada saudara yang menyakitkan hati itu. Aku lebih mencintai Yesus ketika aku melaksanakan perintah Yesus dan bukan karena seorang saudara itu atau karena diriku sendiri. Dalam hal ini perintah Yesus menjadi ukuran apakah kita telah menjadi murid Yesus yang sungguh-sungguh. Di dalam Yesus tidak ada kebencian. Yang ada adalah pengampunan. Karena itu kasihilah musuh-musuhmu, kata Yesus. Saudari-saudara, bacaan pertama menceritakan bagaimana di dalam Perjanjian Lama, seorang perempuan kaya di Sunem itu menerima berkat keturunan karena ia menghargai yang mampir ke rumahnya sebagai Abdi Allah yang kudus. Yesus dalam Perjanjian Baru mengajak bukan saja menghargai orang yang kelihatan baik, malahan kita diajak untuk membalas kejahatan dengan kebaikan – vince in bono malum. Jelaslah, menjadi murid Yesus kita tidak diajak untuk berbuat baik atau mencintai atas cara yang biasa-biasa saja atau umum-umum saja atau atas cara kodrat manusia saja. Kita diajak untuk melaksanakan hidup kita dalam berbuat baik, dalam mencinta berdasar pada kesatuan kita dengan Kristus. Menghargai setiap orang bahkan yang paling kecil sekalipun, menghargai keragaman dan perbedaan menjadi mungkin di dalam dan bersama dengan Yesus. Mari kita meneguhkan identitas kita sebagai murid Yesus, mari kita memuliakan Yesus dengan memberi “segelas air sejuk” kepada siapa saja yang kita jumpai bahkan seorang yang paling kecil sekalipun. Amalkan Panca Sila makin adil makin beradab. (rm pur msc)
 
HARI MINGGU BIASA XIII PDF Print
MENGIKUTI YESUS DENGAN SEPENUH DIRI Saudari-saudara terkasih, kita masuk dalam Hari Minggu ke-13 dalam Tahun A. Bacaan-bacaan pada hari ini menantang kita untuk menilai diri, sejauh manakah kita benar-benar sudah menjadi orang katolik ataupun murid-murid Yesus. Dalam bacaan kedua, Rasul Paulus menegaskan bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya. Baptisan dikenal sebagai sakramen inisiasi. Inisiasi berasal dari kata bahasa Latin, initium, yang berarti masuk atau permulaan, secara harafiah berarti masuk ke dalam. Dalam perlambangan, masuk ke dalam air berarti ikut mati bersama Kristus dan keluar dari air berarti bangkit dan hidup baru bersama Kristus. Pemaknaannya, ketika kita dibaptis, kita dimasukkan ke dalam keanggotaan Kristus. Dari pihak Kristus kita telah ditebus dengan kematian-Nya, dari pihak yang dibaptis ada kemauan untuk hidup baru menurut cara hidup Yesus. Sesudah dibaptis semestinya kita akan hidup menurut cara hidup Yesus. Bacaan Injil mengajak kita untuk mengevaluasi apakah kita memang sudah hidup menurut Yesus Kristus. Sepertinya ini sangat tidak Indonesia banget. Dari kecil kita diajar untuk mencintai keluarga lebih dari segala sesuatu. Namun bagi murid-murid Yesus, Ia berkata: “Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada mengasihi Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Dan siapa saja yang mengasihi putranya atau putrinya lebih dari mengasihi Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Sangat radikal atau Yesus sangat egois? Tapi sebentar, dalam ayat berikutnya Yesus mengatakan: “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, …..barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.” (Mat 10: 40, 42). Di satu pihak Yesus mengatakan bahwa yang mengasihi keluarga lebih dari mengasihi Yesus tidak layak, di pihak lain yang mau memberi segelas air sejuk saja kepada seorang kecil karena Yesus tidak akan kehilangan upahnya. Kita ingat di tempat lain ada pernyataan Yesus: “jika kamu mencintai orang yang mencintai kamu saja, apalah jasamu?” Dalam pernyataan di atas kiranya Yesus tidak menghendaki supaya kita membuang keluarga untuk mencintai Yesus. Sebaliknya kita diajak untuk menjadikan ikatan kita atau kesatuan kita dengan Yesus untuk menjadi dasar atau semangat dalam membangun relasi dengan keluarga sekalipun. Dalam hal yang baik-baik, efek hal ini tidak terlalu kentara, namun dalam hal yang sulit hal ini menjadi sangat penting. Ketika relasi dengan keluarga terjalin baik tentu tidak ada masalah tetapi ketika ada keadaan yang menantang terjadinya keretakan, sabda Yesus itu menjadi berbicara. Ketika saya merasa sakit hati atas perlakuan salah seorang saudara, dapatkah saya tetap mencintai dia? Secara spontan kita mudah mengatakan: “Saya kan hanya manusia, kesabaran saya terbatas.” Sebagai murid Yesus yang telah dipersatukan dengan Dia di dalam pembaptisan, kita wajib mencintai atas nama Yesus, juga kepada saudara yang menyakitkan hati itu. Aku lebih mencintai Yesus ketika aku melaksanakan perintah Yesus dan bukan karena seorang saudara itu atau karena diriku sendiri. Dalam hal ini perintah Yesus menjadi ukuran apakah kita telah menjadi murid Yesus yang sungguh-sungguh. Di dalam Yesus tidak ada kebencian. Yang ada adalah pengampunan. Karena itu kasihilah musuh-musuhmu, kata Yesus. Saudari-saudara, bacaan pertama menceritakan bagaimana di dalam Perjanjian Lama, seorang perempuan kaya di Sunem itu menerima berkat keturunan karena ia menghargai yang mampir ke rumahnya sebagai Abdi Allah yang kudus. Yesus dalam Perjanjian Baru mengajak bukan saja menghargai orang yang kelihatan baik, malahan kita diajak untuk membalas kejahatan dengan kebaikan – vince in bono malum. Jelaslah, menjadi murid Yesus kita tidak diajak untuk berbuat baik atau mencintai atas cara yang biasa-biasa saja atau umum-umum saja atau atas cara kodrat manusia saja. Kita diajak untuk melaksanakan hidup kita dalam berbuat baik, dalam mencinta berdasar pada kesatuan kita dengan Kristus. Menghargai setiap orang bahkan yang paling kecil sekalipun, menghargai keragaman dan perbedaan menjadi mungkin di dalam dan bersama dengan Yesus. Mari kita meneguhkan identitas kita sebagai murid Yesus, mari kita memuliakan Yesus dengan memberi “segelas air sejuk” kepada siapa saja yang kita jumpai bahkan seorang yang paling kecil sekalipun. Amalkan Panca Sila makin adil makin beradab. (rm pur msc)
 
HARI MINGGU BIASA KE XII PDF Print

JANGAN TAKUT, ALLAH BESERTA KITA DI HARI YANG FITRI

 

bacaan liturgiYer. 20:10-13Mzm. 69:8-10,14,7,33-35Rm. 5:12-15Mat. 10:26-33

 

                Saudari-saudara, hari Minggu Biasa ke-12 ini istimewa. Kita merayakannya bersama dengan saudari-saudara kita umat Moslem yang merayakan Idulfitri. Semoga tidak terlewatkan, kita bisa mengucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri kepada mereka. Hari yang fitri, hari yang penuh  kemenangan bagi saudari-saudara kita, sangat indah menjadi renungan kita juga. Dari proses perayaan yang diawali dengan puasa di bulan Ramadan, kemenangan yang dimaksud adalah kemenangan melawan segala nafsu dan selanjutnya memperbaharui tali silaturahmi dengan adanya kehendak untuk saling memaafkan: minalaizin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin. Ada tertulis: “Apabila mereka berpuasa di bulan Ramadhan kemudian keluar untuk merayakan hari raya, maka Allah pun berkata: 'Wahai Malaikatku, setiap orang yang mengerjakan amal kebajikan dan meminta balasannya sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka'. Sesorang kemudian berseru: 'Wahai ummat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian. Seluruh keburukan kalian telah diganti dengan kebaikan'. Kemudian Allah pun berkata: 'Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untukku dan berbuka untukku. Maka bangunlah sebagai orang yang telah mendapatkan ampunan.” Sebagai hamba yang telah mendapatkan ampunan, pada gilirannya juga akan penuh ampunan dan memulai baru kehidupan selanjutnya dalam damai persaudaraan.

Last Updated on Friday, 23 June 2017 13:23
Read more...
 
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS PDF Print

 

 

YESUS HADIR DALAM EKARISTI: DAGINGKU BENAR-BENAR MAKANAN DARAHKU BENAR-BENAR MINUMAN

 

Bacaan LiturgiUl. 8:2-3,14b-16aMzm. 147:12-13,14-15,19-201Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58

 

Saudari-saudara sekalian, kita jumpa lagi dalam hari Minggu ke-11. Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Pada hari ini kita diajak untuk menyadari dan mensyukuri setiap kali kita menghadiri Ekaristi dan menerima komuni suci. Ketika kita menerima komuni suci, kita bukan hanya menerima roti seperti kalau kita menerima hadiah ulang tahun atau ketika kita menerima oleh-oleh dari Holland Bakery ataupun Delicious ataupun Roti Boy ataupun roti yang enak dan mahal harganya. Hosti yang kita terima dalam komuni tidak bisa diganti dengan roti tawar, kue-kue ataupun makanan-makanan tradisional dari beras, terigu, ataupun tepung gandum sekalipun. Hosti yang kita terima dalam Ekaristi, dibuat secara khusus dari tepung gandum tanpa ragi. Oleh kehendak Kristus sendiri yang diulangi oleh imam dalam Konsekrasi Ekaristi; roti buatan tangan manusia itu dijadikan Tubuh Kristus sendiri. Jadi kalau yang kita terima adalah Kristus sendiri, sudah tentulah ada konsekwensi yang harus kita ikuti baik dalam persiapan maupun sesudah menerimanya: Gereja mengajar kita agar setidak-tidaknya mengaku dosa setahun sekali sebelum sambiut Paskah, Gereja mengajarkan bahwa kalau kita berdosa berat maka tidak diperkenankan menyambut komuni sebelum mengaku dosa, Gereja mengajarkan supaya kita mencari kesempatan secepatnya jika kita melakukan dosa-dosa kecil. Gereja mengajak kita untuk sesering mungkin menerima komuni dan tentu sesering mungkin menerima sakramen tobat sebagai persiapannya. Menerima komuni berarti menerima dan bersatu dengan Kristus, membawa konsekwensi bahwa semakin bersatu dengan Kristus seharusnya semakin menyerupi Kristus, semakin menghasilkan buah-buah karunia cinta kasih Kristus.

Last Updated on Sunday, 18 June 2017 09:58
Read more...
 
HARI RAYA TRITUNGGAL MAHAKUDUS PDF Print

 

 

TERPUJILAH ALLAH BAPA, PUTERA, DAN ROH KUDUS KARENA BESARLAH KASIH SETIANYA BAGI KITA

 

Bacaan Liturgi : Kel. 34:4b-6,8-9; MT Dan. 3:52,53,54,55,562Kor. 13:11-13Yoh. 3:16-18 

 

 

Saudari-saudara sekalian, kita berjumpa pada Hari Raya Tritunggal Mahakudus. Rangkaian perayaan Paska mengajak kita untuk memahami dan meresapkan karya penyelamatan Allah atas kita manusia. Allah yang menciptakan manusia bersama dengan bumi dan seluruh isinya menghendaki seluruh ciptaan-Nya baik adanya. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa yang membuat manusia itu sengsara, yakni jauh dari kebahagiaan Allah; Allah merancangkan karya keselamatan dengan mengutus Putera-Nya sendiri. Melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, Sang Putera Allah Yesus Kristus memenkuhi janji keselamatan Allah itu. Kedatangan Roh Kudus yakni Roh Penolong yang dijanjikan oleh Yesus sebelum pemuliaan-Nya ke sorga, melengkapi dan melanjutkan karya keselamatan tersebut dalam diri para beriman untuk seterusnya dan sepanjang seagala masa. Perayaan hari ini mengajak kita menyadari dan mengimani kasih Allah yang luar biasa besar kepada kita manusia. Kasih Allah itu sudah ada sejak awal mula, semakin nyata dalam diri Yesus Kristus dan kasih-Nya itu tetap kekal bersama kita lewat Roh Kudus yang diutus.

 

Bacaan pertama hari ini mengisahkan bagaimana Musa mengalami perjumpaan dengan Tuhan di dalam percakapan kasih-Nya. Tuhan menyapa Musa sambil berseru: “Tuhan adalah Allah yang penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia-Nya!”

Last Updated on Friday, 09 June 2017 15:28
Read more...
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 8 of 14


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.