Agenda Paroki

S M T W T F S
26 27 28 29 30 31 1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31 1 2 3 4 5

Login Email
banner kiri 2019b

We have 18 guests online
SURAT KELUARGA DESEMBER 2018 PDF Print
KOMISI KERASULAN KELUARGA KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA
 
 
BAHAGIA ITU ADA NAMANYA
 
Keluarga-keluarga Katolik terkasih. Anda tentu sudah menikmati masa Adven bersama lingkungan dan keluarga Anda. Saya ikut bahagia menyaksikan kegembiraan Anda semua dalam rekoleksi Bulan Keluarga. Semoga apa yang saya rasakan menjadi pengalaman nyata Anda dan lingkungan di seluruh Keuskupan Agung Jakarta. 
 
Bahagia itu ada namanya. Kadang kita mengatakan bahwa kita bahagia. Ketika ditanya alasannya kita katakan, "Nggak tahu deh, hepi aja, sih!" 
 
Yah, memang kadang rasa bahagia tidak perlu dirumuskan tetapi dinikmati saja. Ketidaktahuan bisa menguntungkan kalau itu terkait dengan hal yang negatif, tetapi kalau terkait dengan yang positif, kita perlu mengetahuinya agar kita lebih sering menikmati yang positif itu dan merasa bahagia. 
Kebahagiaan bisa muncul dari perasaan ditemani, banyak teman, banyak sahabat, punya teman curhat, dan terutama mempunyai keluarga yang dapat menjadi tempat yang nyaman untuk bernaung, bercengkerama, berbicara, dan berbagi berkat lainnya. Sebaliknya, hidup bisa menjadi sesuatu yang sepi, sunyi, dan melelahkan ketika kita harus menjalani semuanya sendirian. Kehadiran orang lain, terutama mereka yang amat penting dalam hidup kita, sangat membawa kebahagiaan. 
 
Natal sudah mendekat, kita harus bergegas maju membawa persembahan kebahagiaan kita masing-masing. Suasana bahagia dapat diciptakan, kalau kita mau dan berusaha menciptakannya. Jangan merana karena merasa diri kurang diberkati. Jangan mengeluh saja karena kurang merasa diperhatikan. Mulailah menjadi pelaku pertama (pionir) dalam menciptakan kebahagiaan bersama.
 
Saya percaya, apa yang selama hidup kita dapatkan merupakan anugerah Allah belaka. Saya percaya kebaikan Tuhan mengalir bagi mereka yang menyandarkan dirinya kepada Allah, meskipun hidup tidak selalu mudah dijalani. Mazmur 18:2 mengatakan, “Ya TUHAN, bukit batuku,  kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung,  perisaiku,  tanduk keselamatanku, kota bentengku!” Begitulah suara iman pemazmur memuji kebaikan Allah yang memeliharanya. Apakah kita sekeluarga mengalaminya?
 
Ketika hati kita diliputi perasaan dicintai, perasaan diterima, dihargai, diperhatikan, didukung, ditemani, dan diteguhkan, kita akan merasa dunia ini begitu bermakna. Kita sungguh membutuhkan orang lain untuk mendukung kita. Kita sungguh menjadi manusia paling beruntung ketika hati kita meyakini bahwa kita dicintai. Itulah cinta Allah yang nyata yang mewujud menjadi cerita bahagia kita.
 
Di samping itu, kebahagiaan juga diciptakan oleh situasi di sekitar kita. Masalah dan kesedihan, tekanan, dan duka bahkan bisa melanda kita kapan saja. Akan tetapi, jika ruang tempat kita berpijak menyegarkan dan menyejukkan, kesulitan dan kesedihan menjadi lebih mudah ditanggung. Kita mempunyai energi berlebih karena situasi di sekitar kita sangat membawa suasana cerita dan tenteram. 
 
Memasang pohon natal, gua natal, menghias rumah dengan pernik natal, memutar lagu natal, menciptakan suasana hati yang baik. Saya selalu mengingat saat saya berada di rumah orangtua saya. Mereka selalu memutar lagu-lagu yang sampai saat ini menciptakan natal di hati saya. Kenangan itulah yang ingin saya bagikan kepada Anda semua bersama keluarga. Saya merasa bersama orangtua dan kakak-adik saat mendengarkan lagu natal. Seolah-olah, pikiran saya memberi rasa nyaman suasana kekeluargaan di masa lalu.
 
Jangan membuat kesulitan dengan diri sendiri. Tuhan pasti tidak sulit ditemui. Yesaya 55:6 mengatakan, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui, berserulah kepada-Nya selama Ia dekat.”
 
Semudah melipat tangan dan mengatupkan mata kita sejenak, demikianlah Tuhan sangat mudah ditemui dalam doa dan harapan baik kita. Kita sering membuat kesulitan pada diri kita sendiri. Kita terlalu banyak membatasi diri dengan aturan yang tidak diharuskan. Kita mudah terluka oleh omongan orang lain, kita sulit mendengarkan orang lain; kita tidak terbuka; kita memikirkan yang buruk akan orang lain; dan kita lebih mengunci diri dengan pikiran-pikiran buruk yang belum pasti benar akan orang lain dan diri sendiri. 
 
Hal lainnya, kita kurang fokus pada apa yang perlu kita perhatikan, seperti keluarga, hidup rohani, dan persahabatan dengan banyak orang. Kita lebih suka mengumpulkan harta tanpa henti. Kita lebih suka bergelimang harta meski hidup kita sepi tanpa teman. Kita suka menciptakan surga di dunia ini dan melupakan kebahagiaan yang lebih yang dapat kita terima dari memberi dan memperhatikan sesama kita yang sedang menderita. Matius 22:39 mengatakan, “... dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”  
 
Mari menciptakan kebahagiaan sederhana dengan cara kita masing-masing, tetapi fokus perhatian kita harus sama, pada kebahagiaan yang tercipta bersama dengan orang-orang tercinta, bersama dengan mereka yang membutuhkan, dan mengalami kepuasan batin yang murah bersama Allah yang mengunjungi kita dalam peristiwa Natal yang akan kita sambut. Semoga Anda dan keluarga mengalami kebaikan Tuhan secara berlimpah. 
 
 
SELAMAT NATAL 
SELAMAT BERBAHAGIA 
BERSAMA KELUARGA
 
Imanuel, Allah beserta kita.
 
Rm. Alexander Erwin Santoso, MSF
 


Powered by Joomla!. Designed by: moodle hosting semi dedicated server hosting Valid XHTML and CSS.